Mengapa Karhutla Masih Terjadi di Indonesia? Ini Penyebab dan Strategi Mitigasinya

Published by Trust Consultant on

Karhutla di Indonesia

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia yang terjadi di beberapa daerah seperti Kalimantan, Sumatera, Papua pada tahun 2026 ini, dampaknya sangat besar—mulai dari krisis kesehatan akibat kabut asap, kerugian finansial, gangguan operasional, dan peningkatan emisi karbon. Dampaknya bahkan dapat meluas hingga lintas batas negara dan memengaruhi kualitas udara di negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. 

Secara historis, Karhutla telah menjadi fenomena berulang. Perbedaannya mengacu pada tingkat keparahan dan luas area yang terbakar. Berdasarkan data burned area periode 1997–2020, kebakaran terparah tercatat pada tahun 1997 dengan luas sekitar 9,75 juta hektare dan tahun 2015 sekitar 4,60 juta hektare. Kondisi iklim seperti El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif dapat memperkuat kekeringan dan meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran. (Nurdiati et al, 2022).

Lalu, mengapa Karhutla masih terus berulang meskipun berbagai upaya pencegahan telah dilakukan? Faktor apa saja yang membuat kebakaran dapat berkembang menjadi bencana besar? Dan  bagaimana organisasi dapat mengelola risiko tersebut secara lebih sistematis? 

Mengapa Karhutla Masih Menjadi Risiko di Indonesia? 

Karhutla jarang dipicu oleh satu faktor. Sebaliknya, kebakaran skala besar umumnya merupakan kombinasi ancaman iklim ekstrem, karakteristik lahan, dan aktivitas manusia. Beberapa faktor utamanya yaitu:

  1. Telekoneksi Iklim Ganda (El Niño dan IOD Positif)
    • Kombinasi Fenomena Iklim: Anomali suhu permukaan laut Pasifik (El Niño) yang terjadi bersamaan dengan Dipole Mode positif di Samudra Hindia (IOD positif) dapat memicu penurunan curah hujan secara drastis.
    • Hari Tanpa Hujan Berkepanjangan: Efek penguat ganda ini menyebabkan kemarau ekstrem (dry-spell) yang mengeringkan vegetasi dan tanah hingga rentan tersulut api, terutama pada lahan gambut.
    • Sensitivitas Wilayah: Kalimantan dan Papua sangat sensitif terhadap intensitas El Niño. Sementara itu, Sumatra dan Riau terpengaruh kuat oleh dinamika IOD serta iklim lokal.
  2. Karakteristik dan Pengeringan Lahan Gambut 
    •  Penurunan Muka Air Tanah: Kanalisasi lahan yang masif menyebabkan air tanah di lahan gambut menurun.
    • Kebakaran Bawah Permukaan (Smoldering Fire): Lahan gambut yang mengering berubah menjadi bahan bakar organik. Api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga merambat di bawah tanah sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan. Terkadang, kebakaran di lahan gambut tampak telah padam dari permukaan.
  3. Faktor antropogenik / Aktivitas Manusia
    • Aktivitas Pembakaran Lahan (Slash-and-Burn): Metode pembakaran masih digunakan dalam pembukaan lahan pertanian atau perkebunan karena murah dan cepat. Berdasarkan Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup No. 16 Tahun 2026 tentang larangan pembukaan lahan dengan cara dibakar, pembukaan lahan seharusnya tidak dilakukan dengan metode pembakaran.
    • Jarak Aktivitas Manusia: Data pemodelan menunjukkan area dekat jalan raya atau permukiman memiliki probabilitas titik api (hotspot) lebih tinggi akibat faktor kelalaian maupun kebiasaan manusia.

            Strategi Mitigasi Karhutla bagi Organisasi yang Terstandarisasi 

            Untuk menghentikan siklus bencana ini, organisasi perlu memprediksi potensi bencana Karhutla dan tidak hanya mengandalkan pemadaman setelah kebakaran meluas. Hal ini penting karena Karhutla menimbulkan multiplier effect, seperti kerusakan lingkungan, gangguan Kesehatan (ISPA, dan sejenisnya), dan kerugian finansial.

            Organisasi juga perlu mengidentifikasi stakeholder secara komprehensif agar keterlibatan masyarakat tidak sekadar menjadi social participation, tetapi berkembang menjadi community mobilization. Peneliti juga perlu dilibatkan sebagai stakeholder penting untuk mendukung mitigasi melalui scientific-based approach dalam mengidentifikasi potensi bencana di lapangan.

            Oleh karena itu, diperlukan tahapan mitigasi Karhutla yang terstruktur:

            A. Integrasi Sistem Manajemen Lingkungan (ISO 14001)
            • Peringatan Dini Sistematis: Memasukkan indikator tren iklim, seperti indeks Niño 3.4 dan DMI, ke dalam Sistem Manajemen Lingkungan (SML) sebagai pemicu otomatis siaga Karhutla.
            • Tata Kelola Hidrologi: Menerapkan strategi sekat kanal (canal blocking) untuk menjaga tinggi muka air tanah gambut agar vegetasi tetap basah.
            • Risk Based Thinking: ISO 14001 memberikan mekanisme terstruktur melalui tata kelola organisasi berbasis risk based thinking, salah satunya dengan siklus PDCA (PLAN-DO-CHECK-ACTION) untuk menangani ancaman iklim secara proaktif, bukan sekadar responsif.

            Baca Juga: Strategi Transisi dan Roadmap ISO 14001:2026 untuk Keberlanjutan Bisnis

            Penerapan Siklus PDCA untuk Pengendalian Karhutla
            1. Tahapan Perencanaan

              Mengintegrasikan proyeksi cuaca/iklim makro dan data ekohidrologi lokal untuk memetakan wilayah rawan terbakar serta menetapkan sasaran tanpa pembakaran api (zero burning). Selain itu, organisasi perlu menetapkan kebijakan operasional ketika kondisi El Niño.

              Perencanaan pencegahan di ekosistem gambut juga dapat dilakukan melalui forecasting, misalnya menggunakan predictive tools berbasis spatio-temporal machine learning untuk memetakan dan mengantisipasi risiko kebakaran.

            2. Tahapan Pelaksanaan
              Membangun infrastruktur seperti embung air dan canal blocking, melatih tim tanggap bencana, mengedukasi masyarakat sekitar, serta melakukan sosialisasi tindakan yang perlu dihindari selama masa rentan berdasarkan hasil prediksi.
            3. Tahapan Evaluasi
              Memantau indikator lingkungan secara berkala, seperti tinggi muka air tanah, indeks kelembapan tanah, dan sistem pantau patroli api. Selanjutnya, memantau hotspot area, melakukan riset untuk memperoleh data real-time, serta mengevaluasi efektivitas predictive tools dalam memprediksi kebakaran yang diakibatkan secara alami.
            4. Tahapan Peningkatan
              Memperbaiki prosedur mitigasi berdasarkan evaluasi pasca-kemarau untuk meningkatkan ketahanan organisasi pada siklus iklim yang rentan.
            B. Manajemen Kelangsungan Bisnis (ISO 22301:2019)

            Mitigasi Gangguan Rantai Pasok: Kabut asap Karhutla dapat memicu gangguan logistik, meningkatkan risiko K3, dan menimbulkan kerugian finansial akibat terhambatnya operasional. Oleh karena itu, organisasi perlu merancang skenario Business Continuity Plan (BCP) yang memperhitungkan kemarau berkepanjangan serta potensi gangguan operasional akibat kabut asap.

            C. Penerapan Prinsip ESG Berbasis Komunitas

            Pilar Sosial dan Tata Kelola: Melibatkan masyarakat lokal dalam program pencegahan kebakaran untuk mengurangi risiko dan dampak bencana. Pengawasan dilakukan bersama terhadap lahan yang tidak terkelola (unmanaged land), disertai strategi penanganan yang terarah dan fokus pada daerah yang terklasifikasi sebagai hotspot area untuk mengurangi risiko titik nyala awal.

            Pentingnya Pendekatan Scientific-Based dalam Mitigasi Karhutla

            Mitigasi Karhutla membutuhkan keputusan yang didukung data. Organisasi tidak cukup hanya mengandalkan respons ketika api muncul karena keterlambatan tindakan dapat meningkatkan dampak lingkungan, sosial, dan finansial.

            Pendekatan scientific-based dapat dilakukan dengan menggabungkan data iklim, informasi hidrologi, pemantauan lapangan, data hotspot, hasil penelitian, dan informasi operasional organisasi. Dengan demikian, data tersebut dapat digunakan untuk menentukan tingkat risiko dan menetapkan prioritas tindakan.

            Selain itu, teknologi seperti sistem pemantauan digital dan predictive analytics dapat menjadi alat pendukung. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kualitas data, validasi model, kompetensi pengguna, serta kemampuan organisasi menerjemahkan hasil analisis menjadi tindakan nyata.

            Kesimpulan

            Karhutla di Indonesia merupakan tantangan kompleks yang membutuhkan pendekatan ilmiah, terstruktur, dan berkelanjutan. Oleh karena itu, organisasi perlu mengintegrasikan berbagai pendekatan melalui scientific-based approach untuk memastikan akurasi data serta mengidentifikasi potensi kejadian dan tingkat risiko secara tepat.

            Dengan pengelolaan hidrologi gambut dan penerapan standar sistem manajemen lingkungan yang komprehensif, risiko bencana Karhutla dapat ditekan secara signifikan. Upaya tersebut juga dapat mengurangi dampak risiko yang besar bagi organisasi sekaligus mendukung keberlanjutan ekosistem.

            Apakah organisasi Anda siap menerapkan standar yang komprehensif di tahun ini? 

            Trust Consultant dapat membantu organisasi memahami kebutuhan, mempersiapkan sistem, dan meningkatkan kesiapan implementasi standar manajemen yang sesuai dengan risiko serta karakteristik bisnis. 

            Pertanyaan Umum (FAQ)
            1. Bagaimana Kebakaran hutan dan lahan berdampak langsung pada aktivitas organisasi?
            2. Bagaimana organisasi menindaklanjuti kejadian KARHUTLA?
            3. Apa itu ISO 14001 & ISO 22301 dan mengapa penting saat menghadapi krisis lingkungan untuk kelangsungan bisnis?

            Hubungi Trust Consultant untuk mendapatkan pendampingan implementasi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi perusahaan Anda. 

            Konsultasi gratis : +62 811-2654-585 

            Request Penawaran : trustconsulting.tc@gmail.com

            Instagram : @trust_consultant 

            =========================================================================

            Sumber Referensi

            Dauerer, A. (2025). A systematic literature review of performance measurement systems and the integration of ESG factors. Environmental and Sustainability Indicators, 27, Article 100746. https://doi.org/10.1016/j.indic.2025.100746

            International Organization for Standardization. (2015). ISO 14001:2015: Environmental management systems — Requirements with guidance for use. Geneva: ISO

            Mahdiyasa, A. W., Chaim, J. F., Pasaribu, U.S., Sumarga, E., Muljadi, B. P., & Chrysanti, A. (2026). A calibrated spatio-temporal machine learning model for tropical peatland fire risk. Natural Hazards Research. Advance online publication. https://doi.org/10.1016/j.nhres.2026.07.00

            Nurdiati, S., Bukhari, F., Julianto, M. T., Sopaheluwakan, A., Aprilia, M., Fajar, I., Septiawan, P., & Najib, M. K. (2022). The impact of El Niño southern oscillation and Indian Ocean Dipole on the burned area in Indonesia. Terrestrial, Atmospheric and Oceanic Sciences, 33(1), 16. https://doi.org/10.1007/s44195-022-00016-0

            Rossita, A., Boer, R., Hein, L., Nurrochmat, D. R., & Riqqi, A. (2023). Peatland fire regime across Riau peat hydrological unit, Indonesia. Forest and Society, 7(1), 76–94. https://doi.org/10.24259/fs.v7i1.21996

            Singhasenee, N., & Na-Nan, K. (2025). From reporting to reality: Measuring ESG-aligned sustainable behaviors in Thai textile communities. Environmental Challenges, 21, Article 101324. https://doi.org/10.1016/j.envc.2025.101324

            =========================================================================

            Penulis: (D)


            0 Comments

            Leave a Reply

            Your email address will not be published. Required fields are marked *