Deteksi Dini Risiko Pangan: Peran HACCP & ISO 22000 dalam Melindungi Konsumen

Published by Trust Consultant on

Keamanan pangan menjadi isu krusial dalam industri makanan global. Setiap kegagalan pengendalian risiko dapat berdampak langsung pada kesehatan konsumen. Kasus penarikan produk pangan sering menjadi peringatan nyata. Oleh karena itu, sistem pencegahan berbasis standar internasional sangat dibutuhkan.

Belum lama ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memerintahkan penghentian distribusi sementara susu formula bayi tertentu. Langkah ini diambil sebagai respons atas peringatan kemanan pangan global. Kasus tersebut menunjukkan pentingnya deteksi dini risiko pangan. Sistem seperti HACCP dan ISO 22000 menjadi fondasi perlindungan konsumen.

Kasus Penarikan Susu Formula Nestlé sebagai Alarm Keamanan Pangan

BPOM memerintahkan PT Nestlé Indonesia menghentikan sementara distribusi susu formula bayi S-26 Promil Gold pHPro 1 untuk usia 0–6 bulan. Langkah ini diambil sebagai respons atas peringatan keamanan pangan global dari EURASFF dan INFOSAN. Produk terdampak memiliki Nomor Izin Edar ML 562209063696 dengan nomor bets 51530017C2 dan 51540017A1, diproduksi oleh Nestlé Suisse SA, Pabrik Konolfingen, Swiss, dan telah masuk ke Indonesia.

Peringatan ini dipicu oleh potensi cemaran toksin cereulide pada bahan baku arachidonic acid (ARA) oil. Toksin cereulide dihasilkan oleh bakteri Bacillus cereus dan bersifat tahan panas. Artinya, toksin ini tidak dapat dimusnahkan melalui proses pemasakan atau penyeduhan air panas. 

Meskipun hasil pengujian BPOM menunjukkan toksin tidak terdeteksi pada sampel di Indonesia, prinsip kehati-hatian tetap diterapkan. Bayi merupakan kelompok konsumen paling rentan terhadap risiko pangan. Kasus ini menegaskan bahwa keamanan pangan tidak cukup mengandalkan uji akhir, tetapi memerlukan sistem pencegahan risiko yang kuat melalui HACCP dan ISO 22000.

Mengapa Deteksi Dini Risiko Pangan Sangat Penting?

Deteksi dini risiko pangan bertujuan mencegah bahaya produk sebelum produk dikonsumsi. Pendekatan ini lebih efektif dibandingkan penarikan produk setelah beredar. Risiko pangan dapat bersifat biologis, kimia atau fisik. Semua risiko tersebut harus diidentifikasi sejak awal proses produksi.

Dalam kasus toksin cereulide, pemanasan tidak mampu  menonaktifkan bahaya. Artinya, kontrol pada tahap akhir tidak lagi efektif. Risiko harus dicegah sejak pemilihan bahan baku. Inilah alasan keamanan pangan memerlukan pendekatan sistematis.

Selain itu, organisasi hanya bergantung pada pengujian akhir apabila tidak didukung sistem yang kuat. Pendekatan tersebut tidak cukup dalam industri pangan modern. HACCP hadir sebagai metode pencegahan yang terstruktur.

Peran HACCP dalam Pencegahan Risiko Keamanan Pangan

HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) merupakan sistem identifikasi dan pengendalian bahaya pangan. Sistem ini berfokus pada pencegahan, bukan reaksi. HACCP membantu organisasi mengenali titik kritis yang berpotensi menimbulkan bahaya.

Melalui HACCP, risiko seperti cemaran bakteri atau toksin dapat dikendalikan sejak awal. Setiap tahapan proses dianalisis secara sistematis. Tindakan pengendalian ditetapkan pada titik kritis produksi. Pendekatan ini memperkuat perlindungan konsumen secara berkelanjutan.

Namun, HACCP tidak berdiri sendiri. Implementasinya membutuhkan kerangka manajemen yang lebih luas. Di sinilah ISO 22000 berperan.

ISO 22000 sebagai Sistem Manajemen Keamanan Pangan Terintegrasi

ISO 22000 adalah standar internasional sistem manajemen keamanan pangan. Standar ini mengintegrasikan prinsip HACCP dengan pendekatan manajemen berbasis risiko. ISO 22000 mencakup seluruh rantai pasok pangan, dari bahan baku hingga distribusi.

Dengan ISO 22000, organisasi membangun sistem yang terdokumentasi dan terukur. Setiap risiko pangan dikendalikan secara konsisten. Selain itu, komunikasi risiko antar pihak rantai pasok menjadi lebih efektif. Hal ini sangat relevan pada industri pangan global.

Penerapan ISO 22000 membantu organisasi merespons peringatan keamanan pangan internasional. Sistem ini mendukung kepatuhan terhadap regulasi BPOM dan standar global. Keamanan pangan tidak lagi bergantung pada reaksi darurat.

Peran Trust Consultant dalam Penguatan Sistem Keamanan Pangan

Implementasi HACCP dan ISO 22000 membutuhkan pemahaman teknis dan sistem manajemen. Trust Consultant hadir sebagai mitra strategis dalam penguatan keamanan pangan. Pendekatan yang digunakan bersifat praktis dan berbasis risiko. Fokusnya adalah pencegahan sejak awal.

Layanan Trust Consultant meliputi:

  1. Analisis risiko keamanan pangan dan gap assessment
  2. Penyusunan sistem HACCP dan ISO 22000
  3. Pelatihan tim produksi dan manajemen
  4. Pendampingan audit internal dan sertifikasi

Dengan sistem yang tepat, organisasi lebih siap menghadapi krisis keamanan pangan. Kepercayaan konsumen dapat dijaga secara berkelanjutan. Keamanan pangan menjadi keunggulan kompetitif, bukan sekadar kewajiban.

Baca Juga: ISO 22000 & HACCP: Solusi Terbaik Menjamin Keamanan Produk Pangan

Kesimpulan

Kasus penarikan susu formula Nestlé menjadi pengingat pentingnya keamanan pangan. Deteksi dini risiko pangan harus menjadi prioritas utama industri. HACCP dan ISO 22000 memberikan pendekatan sistematis untuk melindungi konsumen. Dengan dukungan Trust Consultant, organisasi dapat membangun sistem keamanan pangan yang kuat, patuh, dan berkelanjutan.

==================================================================================

Sumber Referensi

Andi Adam Faturrahman, Susu Formula Nestle Ditarik di 49 Negara, Bagaimana di RI?. Diakses pada 21 Januari 2026 melalui link https://www.tempo.co/ekonomi/susu-formula-nestle-ditarik-di-49-negara-bagaimana-di-ri–2107383 

Nestle Indonesia, Informasi Nestle Indonesia Terkait Produk Formula Bayi. Diakses pada 21 Januari 2026 melalui link

https://www.nestle.co.id/media/pressreleases/allpressreleases/informasi-nestle-indonesia-terkait-produk-formula-bayi 

BPOM RI, Penarikan Produk Formula Bayi Impor. Diakses pada 21 Januari 2026 melalui link https://www.pom.go.id/penjelasan-publik/penarikan-produk-formula-bayi-impor 

BPOM RI, Pedoman HACCP – Program Manajemen Risiko. Diakses pada 22 Januari 2026 melalui link https://pmr.pom.go.id/storage/76626/PEDOMAN-PMR-PSK-Disterilisasi-Setelah-Dikemas—HACCP.pdf 

TUV Rheinland, ISO 22000. Diakses pada 22 Januari 2026 melalui link https://www.tuv.com/indonesia/id/iso-22000.html 

==================================================================================

Penulis: (A)

Daftar untuk download artikel



    0 Comments

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *